PERSADARIAU, JAKARTA — Nilai tukar Rupiah kembali melemah dan menyentuh level terendah baru terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (13/5/26) setelah pasar merespons rebalancing indeks global MSCI.
Data Bloomberg menunjukkan Rupiah turun 13 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.541 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS menguat tipis 0,01 persen ke level 98,30.
MSCI Inc mengumumkan hasil evaluasi indeks Mei 2026 dan mendorong investor global menyesuaikan portofolionya.
Kondisi tersebut meningkatkan potensi arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Sejak awal 2026, Rupiah telah melemah sekitar 5,09 persen terhadap dolar AS.
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah akan membantu Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar.
“Kita coba membantu nilai tukar, kita membantu Bank Indonesia sedikit-sedikit kalau bisa,” kata Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (12/5/26).
Pemerintah juga akan masuk ke pasar obligasi melalui skema Bond Stabilization Fund (BSF).
Pemerintah berencana membeli kembali obligasi negara yang dilepas investor asing untuk menahan kenaikan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN).
“Besok kita akan mulai membantu dengan masuk ke bond market, seperti Bond Stabilization Fund. Kita masih banyak uang nganggur, kita intervensi bond market supaya yield-nya enggak naik terlalu tinggi,” ujar Purbaya.
Menurut dia, kenaikan yield yang terlalu tinggi dapat mendorong investor asing mengalami capital loss dan menarik dana dari pasar obligasi domestik.
“Kalau yield-nya naik terlalu tinggi, asing yang pegang bond di sini akan mengalami capital loss dan keluar. Jadi kita kendalikan supaya asing enggak keluar, atau malah masuk kalau yield membaik, sehingga Rupiah bisa menguat,” katanya.
Purbaya menegaskan pemerintah masih memiliki ruang fiskal yang cukup untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Namun, pemerintah belum akan mengaktifkan seluruh dana dalam skema BSF pada tahap awal intervensi.
“Besok mulai jalan, tapi belum semua fund kita aktifkan,” tuturnya.
Pemerintah juga memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap aman meski nilai tukar Rupiah telah melampaui asumsi dasar APBN 2025 sebesar Rp16.500 per dolar AS. (Rmol)

