PERSADARIAU, PEKANBARU – Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Provinsi Riau menyoroti perbedaan penanganan dua perkara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Pelalawan.
Adrian, Ketua DPW GMPK Riau, menilai tahapan pemeriksaan kasus kebakaran lahan di areal kebun sawit milik Koperasi RTBS berjalan lambat dan belum transparan.
“Kondisi tersebut berbeda dengan penanganan kasus serupa di wilayah Teluk Meranti yang telah masuk ke tahap persidangan,” sebut Adrian, Sabtu (22/5/26).
Dia menambahkan, hingga kini masyarakat belum mengetahui total luas lahan yang terbakar di areal kebun koperasi tersebut.
Pasalnya, informasi yang beredar belum menunjukkan angka pasti dan terus berubah, dari puluhan hektare hingga angka mencapai ratusan hektare.
“Masyarakat berhak memperoleh informasi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan terkait luas lahan yang terbakar,” ujar Adrian.
GMPK meminta aparat penegak hukum segera memastikan kejelasan status hukum dalam penanganan kasus kebakaran lahan di wilayah koperasi RTBS.
“Penegakan hukum harus dilakukan secara adil tanpa membedakan latar belakang pihak yang terlibat,” tambah Adrian.
Selain itu, GMPK juga mendorong aparat terkait untuk segera melakukan pengukuran resmi pada area yang terdampak kebakaran serta melaksanakan upaya pemulihan lingkungan.
Langkah ini dinilai penting karena lahan gambut memiliki tingkat kerentanan yang tinggi dan dapat mengalami kerusakan permanen apabila terbakar.
Menanggapi desakan publik soal kasus kebakaran lahan yang terjadi di perkebunan kelapa sawit Koperasi Riau Tani Berkah Sejahtera (RTBS) di Desa Merbau.
Kasat Reskrim Polres Pelalawan, AKP Bayu Ramadhan Effendi memastikan tindakan hukum masih berjalan dan memeriksa para pihak guna mengetahui sumber api.
“Masih penyelidikan, saksi-saksi juga sudah dimintai keterangan,” ujar AKP Bayu.
Bayu menjelaskan, pihaknya telah memeriksa tiga orang pengurus Koperasi RTBS. Di antaranya ketua koperasi, sekretaris dan manager kebun tersebut.
Kemudian, polisi juga meminta keterangan dari ketua RT, ketua RW dan kepala dusun di desa setempat.
“Belum sampai kesana masih perkiraan perkiraan saja. Sampai nanti kita undang ahli pemetaan baru bisa persis,” terang Bayu saat ditanya berapa total luas lahan terbakar.
Sus

