PERSADARIAU, PELALAWAN — Pagi di Pangkalan Kerinci belum sepenuhnya pulih. Jarum jam menunjukkan waktu Ahad, 30 Agustus 2026, ketika pandangan mata ke arah jalan raya masih dibayangi tirai samar kabut asap. Meski tak se-mencekam hari-hari sebelumnya, aroma sangit sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menusuk hidung, menggantung di udara yang dihirup warga.
Musibah tahunan ini kembali memaksa ritme hidup berubah. Ruang-ruang kelas di sejumlah sekolah sunyi dari gelak tawa murid.
Pembelajaran terpaksa dipindahkan ke layar kaca melalui jaringan daring demi melindungi paru-paru anak-anak dari ancaman partikel berbahaya. Kepastian apakah esok hari bel sekolah kembali berbunyi untuk tatap muka masih bergantung penuh pada arah angin dan catatan kualitas udara.
Di tengah situasi rentan tersebut, sebuah tenda kepedulian berdiri di tepi Jalan Lintas Timur, tepatnya di Club HSC depan SMAN 1 Pangkalan Kerinci. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Pelalawan bersama IDI Wilayah Riau mengambil langkah cepat dengan mengoperasikan Posko Kesehatan Gratis Dampak Kabut Asap.

Tampak beberapa tabung oksigen dan alat nebulizer disiagakan di sudut ruangan. Fasilitas terapi uap ini menjadi tumpuan bagi siapa saja yang mulai merasakan sesak napas. Selain itu, para dokter juga menyediakan layanan pemeriksaan, konsultasi gratis, hingga pembagian masker dan vitamin.
Gerakan kemanusiaan ini tidak berjalan sendiri. Potensi medis lokal dihimpun dalam satu barisan, melibatkan RSUD Selasih, RS Efarina, RS Amalia Medika, hingga RS Medicare Sorek. Posko yang dijadwalkan beroperasi sejak 29 Agustus hingga 4 September 2026 ini melayani warga setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB.
Ketua IDI Pelalawan, dr. Tengku Asrahadi, Sp.B, menegaskan bahwa kehadiran posko ini merupakan respons langsung atas kebutuhan warga Pangkalan Kerinci dan sekitarnya yang paling rentan terpapar gangguan pernapasan.
Meski jarak pandang mulai membaik, dokter mengingatkan agar masyarakat tidak terkecoh oleh visual udara yang tampak meng clear. Bahwa ancaman partikel mikroskopis tidak serta-merta lenyap seiring menipisnya bayangan asap.
“Meski kabut menipis, tetapi kewaspadaan jangan ikut menipis,” ingatan itu disampaikan dr. Acit sebelum menutup pembicaraan. Sebuah imbauan agar warga tetap mengenakan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan, setidaknya sampai langit Pelalawan benar-benar kembali biru.**/red

