Di Lambangsari V, perubahan itu sedang diupayakan. Mungkin belum besar, mungkin masih jauh dari selesai. Namun, ketika satu rumah mulai memilah sampah, satu keluarga melihat nilai di balik plastik bekas, dan satu desa bersepakat menjaga kebersihan, masa depan yang lebih baik tak lagi sekadar angan.
PERSADARIAU, INDAGIRI HULU – Deru mesin pompa angguk yang bergerak naik-turun menjadi pemandangan karib di wilayah operasi PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Field Lirik. Di bawah lapisan bumi Desa Lambangsari V, Kabupaten Indragiri Hulu, minyak bumi disedot tanpa henti untuk menggerakkan roda energi nasional. Namun, kehadiran anak usaha BUMN ini ternyata tidak melulu soal eksploitasi kekayaan alam semata. Di atas permukaan tanah yang sama, sebuah iklim sosial dan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan tengah dirajut dengan penuh kehangatan melalui pemberdayaan nyata.
Rabu berselimutkan asap yang cukup tebal menjadi hari yang sangat bersejarah bagi warga setempat saat manajemen PHE Field Lirik secara resmi meresmikan Program Kampung Iklim (Proklim) di Desa Lambangsari V. Peresmian ini bukan sekadar seremoni gunting pita seperti biasa, melainkan perayaan atas ketangguhan sebuah komunitas yang sempat luluh lantak oleh tantangan alam, namun menolak untuk menyerah pada nasib. Komunitas tangguh itu bernama Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati (Model Ekonomi Lingkungan Terpadu dan Inklusif).
Cerita manis ini bermula dari sebuah kepedulian sosial yang tulus. Pihak PHE Field Lirik melihat ada potensi besar yang tersembunyi di balik ketekunan para ibu rumah tangga di desa tersebut. Melalui program pemberdayaan masyarakat yang terstruktur, terbentuklah embrio KWT Melati yang digawangi oleh 13 orang ibu-ibu penuh semangat. Mereka adalah deretan perempuan yang memiliki visi seragam membantu menopang perekonomian keluarga dengan mengoptimalkan pekarangan dan lahan di sekitar tempat tinggal mereka.
Langkah awal mereka terbilang sangat sukses dan meyakinkan. Memanfaatkan lahan kas desa yang disepakati, 13 ibu ini mulai memperlihatkan kepiawaiannya mengelola pertanian hortikultura dengan memilih jenis tanaman Cabai Merah. Cabai merah sengaja dipilih karena komoditas ini dikenal sebagai salah satu primadona pasar yang fluktuasi harganya kerap mendatangkan keuntungan melimpah bila dikelola secara tepat.
“ Kami berdiri Juni 2022 dan disahkan berdasarkan SK Kepala Desa Lambangsari V. Kami dipinjamkan kebun milik desa. Mulanya kami diberi 50 karung kotoran ayam dan kita olah sendiri jadi kompos, itu baunya luar biasa,” kata Sri Rahayu Ningsih ketua KWT Melati Desa Lambangsari V saat menceritakan perjalanan terbentuknya komunitas mereka dalam Launching Bank Sampah Delima & Pelatihan Pengelolaan Sampah – KWT Melati, Rabu (7/10/2026) di aula Desa Lambangsari V Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu.
Hari-hari pun berganti dengan peluh yang bercucuran di ladang. Tangan-tangan terampil para ibu rutin menyiram, menyiangi gulma, serta memupuk tunas-tunas hijau itu hingga akhirnya tumbuh lebat. Saat musim panen raya tiba, kepuasan yang luar biasa beralih memenuhi dada mereka. Cabai-cabai merah segar yang merona siap meluncur ke pasaran. Pendapatan berupa “cuan” yang mengalir dari hasil penjualan perdana ternyata melampaui ekspektasi awal. Nilai ekonomi yang dihasilkan cukup untuk membuat senyum lepas dan tawa bahagia dinikmati oleh seluruh anggota kelompok beserta keluarganya. Masa depan ekonomi mikro desa terasa begitu cerah di mata mereka.
Namun, roda kehidupan berputar tanpa bisa ditebak. Kebahagiaan dan senyum lepas itu seakan harus disudahi secara mendadak akibat ujian besar yang datang melanda. Wilayah kekuasaan pertanian cabai merah yang dirawat dengan penuh kasih sayang oleh ibu-ibu KWT Melati mendadak diserbu dan diganggu oleh gerombolan monyet liar yang keluar dari habitat aslinya.
Gerombolan primata cerdik itu tidak hanya memetik buah cabai yang siap panen, tetapi juga merusak batang-batang tanaman hingga tercabut ke akar-akarnya. Kebun cabai yang semula menjadi tumpuan harapan masa depan berubah drastis menjadi medan kehancuran hanya dalam hitungan hari. Kerugian materi yang diderita tidaklah sedikit, dan pukulan mental yang diterima para ibu jauh lebih berat. Rasa putus asa sempat menggelayuti langit desa, membayangi kerja keras yang sirna dalam sekejap. Namun, julukan wanita tangguh bukanlah sekadar sematan kosong bagi KWT Melati. Berhenti berjuang sama sekali tidak pernah ada dalam kamus hidup mereka.
“…Ancaman tanaman kami diserang Monyet. Kemudian setelah dapat masukan dari Pertamina dan pemerintah desa, kami beralih menanam Sinkong hingga lahirlah keripik Ubi Ibu ini,” ujar wanita tangguh itu.
Evaluasi total dari pengalaman pahit sebelumnya segera dilakukan bersama-sama. Mereka menyadari bahwa menanam jenis hortikultura yang mencolok dan disukai oleh primata di wilayah tersebut memiliki tingkat risiko yang terlalu tinggi. Mereka membutuhkan jenis tanaman baru yang jauh lebih tangguh, tidak disukai oleh monyet, namun tetap memiliki nilai ekonomi yang tidak kalah menjanjikan untuk pasar jangka panjang.
Pilihan cerdas akhirnya jatuh pada tanaman umbi jenis singkong Malaysia. Singkong jenis ini dipilih karena memiliki karakteristik umbi yang besar, bertekstur empuk saat diolah, serta memiliki daya tahan tanaman yang sangat baik. Yang paling krusial, bagian utama yang bernilai ekonomis yakni umbinya terpendam dengan aman di dalam tanah, sehingga terhindar dari jangkauan dan gangguan gerombolan monyet liar yang kerap merusak di permukaan. Kembali ke ladang dengan memanggul cangkul dan membawa semangat baru, KWT Melati mulai menanam stek-stek batang singkong Malaysia secara masif.
Usaha dan semangat baru ini tidak berjalan sendirian di tengah jalan. Sokongan penuh yang mengalir dari berbagai pihak menjadi angin segar yang mempercepat kebangkitan ekonomi mereka.
PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Field Lirik turun tangan memberikan bantuan berupa sarana produksi pertanian, pelatihan pengolahan pascapanen yang higienis, hingga pendampingan manajemen usaha mikro. Tak kalah penting, Pemerintah Desa Lambangsari V turut memberikan restu berupa fasilitas kebijakan lokal dan dukungan moral yang kuat.
Kolaborasi harmonis dari tiga pilar utama perusahaan BUMN, pemerintah desa, serta keuletan komunitas local akhirnya sukses melahirkan produk olahan lezat bernilai jual tinggi yang diberi nama “Keripik Ubi Ibu”.

Pilihanpun pada jenis Singkong Malaysia yang berhasil dipanen melimpah tidak lagi dijual mentah dengan harga murah, melainkan disulap menjadi camilan premium yang renyah, gurih, dan dikemas dengan varian rasa modern yang memikat lidah konsumen. Kemasannya pun didesain menarik agar siap bersaing di pasar regional yang lebih luas.
“ Kami banyak berterima kasih kepada Pemerintah Desa sudah banyak mensuport kami, begitu juga dengan PT Pertamina. Insya Allah dari penjualan kripik kami, kita mau study banding ke Jogja, pak,”
Melalui momentum peresmian Proklim di Desa Lambangsari V ini, PHE Field Lirik kembali menegaskan komitmen jangka panjangnya untuk terus mengawal keberlanjutan ekonomi hijau di tingkat desa. Produk “Keripik Ubi Ibu” kini bukan sekadar cemilan pendamping minum teh biasa, melainkan telah menjelma menjadi simbol kemenangan serta ketangguhan 13 wanita desa dalam menaklukkan tantangan alam. Senyum lepas yang sempat hilang kini telah kembali, mekar jauh lebih indah, dan membawa berkah ekonomi yang berkelanjutan bagi seluruh masyarakat desa.
Pagi mungkin datang dengan embun yang menggantung di ujung daun. Namun, di balik wajah desa yang ingin tetap asri, ada persoalan yang tak bisa disapu begitu saja, sampah. Benda-benda yang semula berguna, perlahan menjadi beban ketika berakhir di tempat yang salah.
Dimata Manajer Pertamina Field Lirik, Lukman Arif ditingkat tapak sangat diperlukannya program peningkatan kapasitas berbasis kebutuhan masyarakat. Dngan menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Indragiri Hulu, anggota kelompok memperoleh pelatihan pembuatan biopori dan komposter sebagai bagian dari implementasi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Pelatihan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman mengenai pengelolaan sampah organik, tetapi juga menghasilkan pupuk kompos yang dimanfaatkan kembali pada lahan budi daya singkong. Selain itu, kelompok juga mengikuti kegiatan benchmarking pengelolaan bank sampah untuk memperluas wawasan mengenai pengelolaan sampah berbasis masyarakat sebagai rencana pengembangan program pada tahap selanjutnya.

Pembentukan Bank Sampah Desa menjadi instrumen awal untuk membangun mekanisme pemilahan, pengumpulan, dan pemanfaatan sampah yang lebih terstruktur. Sampah tidak hanya dipandang sebagai residu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan kembali sesuai jenis dan potensinya.
“..Membuang sampah sesuai jenis sampahnya. Nah, ini sedikit naik kelas dari level biasanya. Ini jadi role model dari sampah menjadi Bernilai. upaya untuk mendorong kemandirian masyarakat, khususnya lingkungan. Melalui bank sampah kita ingin mengubah sudut pandang tentang sampah,” ujar Luqman memotivasi Bank Sampah Delima.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Elpadri Adha, menyebut timbunan sampah mencapai 30–35 ton setiap hari di dua tempat pembuangan akhir (TPA), Pasir Penyu dan Batu Canai. Angka itu bukan sekadar hitungan tonase, melainkan cermin kebiasaan yang belum sepenuhnya berubah.
Elpadri bahkan menyoroti kebiasaan sebagian warga yang membuang sampah pada tengah malam hingga selepas subuh. Ia mengibaratkan, ada yang datang dengan sepeda motor, meletakkan sampah, lalu pergi seolah persoalan telah selesai.
“Nilai kita dalam penanganan sampah itu tujuh. Bukan merah lagi, tapi hitam,” ujarnya, melukiskan betapa berat pekerjaan rumah yang harus dituntaskan.

Di tengah kenyataan itu, harapan justru tumbuh dari sebuah desa. Lambangsari V, yang menjalankan Program Kampung Iklim (Proklim) sejak 2023, mencoba menempuh jalan berbeda: menjadikan kepedulian lingkungan sebagai kebiasaan, bukan sekadar slogan.
Kepala Desa Lambangsari V, Syafrizal, menyebut pihaknya berencana membuat lubang biopori di setiap rumah. Langkah sederhana itu diharapkan menjadi pintu masuk bagi perubahan yang lebih luas, dimulai dari halaman sendiri, lalu menjalar ke seluruh kampung.
“Slogan kami nantinya, sampah plastik jadi cuan bagi setiap keluarga,” katanya.
Bagi Syafrizal, sampah plastik tak seharusnya berakhir sebagai pemandangan yang merusak desa wisata. Dengan semangat ibu-ibu dan dukungan Pertamina, benda yang selama ini dianggap tak berguna diharapkan bisa memiliki nilai ekonomi.
Harapan serupa disampaikan Elpadri. Ia ingin Pertamina menjadi bapak angkat permanen bagi Proklim, sekaligus mendukung inovasi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak setara Dex.
Sebab, menjaga lingkungan bukan hanya tentang mengangkut sampah dari jalanan menuju TPA. Lebih dari itu, pekerjaan sesungguhnya adalah mengubah cara pandang manusia terhadap sampah.
Di Lambangsari V, perubahan itu sedang diupayakan. Mungkin belum besar, mungkin masih jauh dari selesai. Namun, ketika satu rumah mulai memilah sampah, satu keluarga melihat nilai di balik plastik bekas, dan satu desa bersepakat menjaga kebersihan, masa depan yang lebih baik tak lagi sekadar angan.
Sebab, desa yang bersih bukan hanya desa tanpa sampah. Ia adalah desa yang warganya belajar bahwa merawat bumi berarti merawat kehidupan mereka sendiri.
Penulis : Faisal

