PERSADARIAU, PELALAWAN — Fenomena ikan mati di Sungai Sering Kecamatan Pelalawan kembali terulang. Hulu sungai berdiri megah industri pabrik bubur kertas dan rayon PT RAPP group yang dicurigai menjadi penyebab matinya biota sungai tersebut pada Selasa (4/11/2025) sore wib.
Seorang warga yang tengah mengambil ikan sore itu mengatakan air mengeluarkan bau tidak sedap.
” Ini kenak limbah RAPP, nih. Besar-besar ikan mati. Ada seekor nya 1 kg, bang,” kata pemuda setempat saat memunguti ikan mengambang di Sungai Sering pada Selasa Petang.
Hal senada juga diungkapkan seorang warga setempat, Rendi, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menyebut, selain ikan mati, banyak juga ikan yang tampak mabuk dan muncul ke permukaan air.
“Banyak sekali ikan yang mati, bahkan masih ada yang mabuk dan timbul ke permukaan. Kejadian seperti ini sering terjadi tiap tahun, tapi tidak pernah ada tindak lanjut atau penegasan dari pihak berwenang,” ujar Rendi kepada awak media.
Kepala Desa Sering, Bambang ketika dikonfirmasi belum menjawab substansi persoalan tersebut. Pria yang akrab dipanggil Mr Bengbeng itu hanya mengiyakan adanya mediasi di Polres Pelalawan antara masyarakat dengan PT RAPP.
“Iya, saya lagi dijalan,” jawabnya singkat.
Mendapatkan informasi, Bupati Pelalawan H. Zukri, S.M., M.M. langsung turun ke lokasi untuk meninjau kondisi sungai. Ia melihat langsung ribuan ikan mati dan ikan mabuk yang tersebar di permukaan air Sungai Pangkalan Kerinci.
Bupati Zukri kemudian memerintahkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta Dinas Perikanan Kabupaten Pelalawan untuk segera melakukan penyelidikan dan mengambil sampel air serta ikan guna mencari penyebab pasti peristiwa tersebut.
“Saya sudah instruksikan DLH dan Dinas Perikanan untuk turun langsung dan menelusuri penyebab matinya ikan-ikan ini. Kita harus tahu apakah ini akibat pencemaran atau faktor lingkungan lainnya,” tegas Bupati Zukri saat berada di lokasi.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pelalawan, Eko Novitra, S.T., M.Si., membenarkan bahwa tim PPLH (Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup) telah turun ke lapangan.
“Tim sudah turun ke lapangan dan menyusuri dari hulu sungai Kerinci untuk di ambil sampelnya untuk diuji (di laboratorium),” ungkap Eko.
“Belum bisa di pastikan, hanya saja dari hulu nggak ada ikan mati,” katanya menjawab pertanyaan Persadariau, Rabu (5/11/2025).
DLH menjelaskan butuh waktu paling tidak dua pekan kedepan untuk mengetahui hasil uji sample di laboratorium.

